Wednesday, December 24, 2008

2008

Hanya ingin merekap apa yang telah saya jalani sepanjang tahun 2008.

Januari: akhir bulan ini ada rapat program di Mataram, Lombok. Sebelum berangkat sempat ketemuan dengan pemilik rumah yang saya beli, dan bayar lunas, di depan notaris. Sekalian balik nama pada sertifikat.

Pebruari: pergi ke lapangan di Sulawesi Utara (G. Lokon, G. Soputan, G. Mahawu, G. Ruang dan G. Karangetang) . Sebelum pergi sempat menghubungi dan ketemuan dengan arsitek, yang adiknya kawan saya, untuk membicarakan renovasi rumah.

Maret: pertengahan bulan pulang dari Sulut, ketemuan dengan arsitek, beberapa kali merubah bentuk rumah. Sekalian ketemu dengan pemborong dan negosiasi harga.

April: pergi penelitian ke G. Kelud, Jatim. Rumah mulai dirombak. Rencananya memerlukan waktu sekitar 10-12 minggu.

Mei: pergi tugas lapangan ke G. Kaba, Bengkulu. Pulang dapat flu dan batuk yang lama sembuhnya. Gara-gara tiduran diatas batu di puncak menunggu kabut dan hujan pergi, supaya dapat foto kawah lama yang bagus untuk laporan.

Juni: awal Juni pulang dari Bengkulu. Di telpon bos#2 untuk segera pulang. Mengecek renovasi rumah. Kalau saya tidak sedang keluar kota, biasanya setiap sabtu saya sempatkan datang menengok rumah.

Juli: ke G. Banda Api di laut Banda, Maluku. Perjalanan yang menyenangkan. Seminggu setelah dari Maluku, langsung pindah rumah. Banyak dibantu oleh kawan2. waktu itu hari sabtu. Hari minggu, ortu dan adik saya dan anak2nya datang dari kampung. Sekalian membawa pembantu. Mereka hanya 4 hari di rumah, karena adik saya harus kerja.

Agustus: pertengahan bulan pergi ke G. Kelud , di Jatim. Karena suatu hal, balik lagi ke G. Kelud 3 hari kemudian setelah balik. Puasa hari ke 3, 4, 5, dan 6 ada di G. Kelud. Pagi sampai siang hari kerja, sore hari tidur kecapekan.

September: puasa. Akhir september mudik, lebaran

Oktober: balik dari kampung, tanggal 6 oktober, terjebak macet luar biasa. Ada ribuan mobil tersebar di jalan raya antara jateng - jabar. 90% ber nomer ”B”. Berangkat jam 9 pagi, sampai bandung jam 12 malam.

November: dapat tugas lapangan ke G. Ijen, Jatim. Tetapi tidak boleh pergi sama bos#1dan bos#2, karena ada pekerjaan yang lebih penting yang harus ditangani. Persiapan Asian International Symposium, yang host-nya adalah kantor saya. Saya kebagian sebagai sekretaris, dan ini artinya adalah pelaksana kegiatan, yang mengkoordinasi symposium dari A-Z. Beruntung saya dibantu oleh kawan2 yang mau bekerja keras. Dari mengurus akomodasi, penjemputan, protokoler undangan ke mentri dan para eselon 1, menyiapkan seminar kit, perijinan, mengurus akomodasi field trip ke G. Kelud, domestic ticketing dan lain2. Rapat2 berkaitan dengan simposium ini dilakukan sejak September – akhir Nopember. Disamping itu, pekerjaan rutin lain juga harus dijalani, dan saya juga harus mempersiapkan bahan2 untuk presentasi dalam simposium itu.

Desember: tanggal 1-4, adalah hari H simposium. 2 hari adalah presentasi dan diskusi tentang langkah kedepan untuk kerjasa sama. Yang hadir adalah para ahli dari berbagai negara, US, France, Italy, Japan, Belgium, PNG, New Zealand dan Philipines. Sayang peserta dari Australia tidak bisa hadir karena travel warning.
Allhamdulillah, simposium berjalan lancar, meski ada sedikit keterlambatan dari kumpulan abstrak, yang harusnya pagi hari saat registrasi dibagian, tetapi baru bisa dibagikan saat makan siang.
Yang lebih seru lagi adalah saat fieldtip. Pada tanggal 3 Desember, 40 orang lebih terbang bareng dari Bandung ke Surabaya. Sebagian panitia sudah berangkat duluan naik mobil dan kereta. Tadinya saya tidak akan ikut fieldtrip ke G. Kelud dan Lapindo, tetapi bos#1 dan bos#2 serta Ndoro dari Jepun minta saya ikut. Untung masih dapat tiket. Penerbangan alhamdulillah lancar, tidak delay. Di Surabaya, sudah menunggu bis besar, yang akan membawa kami ke G. Kelud di Kediri. Perjalanan yang lumayan lama, 4 jam. Begitu sampai di lokasi, semua ahli terlihat antusias dan tertarik dengan fenomena alam ini. Kalau tidak di potong, pasti tidak jadi makan siang. Makan siang dilakukan ditengah terik matahari, di depan teronggok kubah lava baru G.Kelud. Mungkin untuk yang tidak biasa kerja lapangan, cara makan seperti itu aneh. Tetapi bagi kami, adalah hal yang sangat biasa dan ada kenikmatan tersendiri. Padahal dari para ahli itu ada beberapa yang sudah profesor. Secara fisik masih hebat2, tanjakan tajam dilalui dengan baik. Sempat saya dengar dialog:
+ ah.. getting older John? Si penanya melihat pak John terengah2 di tanjakan
+ yeah.. every year i am getting older
Di Kediri, kami menginap di hotel Bukit Daun, di kaki G. Wilis. Hotel yang bagus dan murah. Hotel yang didisain horisontal kamar-kamarnya. Dan menyatu dengan alam sekitarnya. Semua peserta sangat senang menginap disana. Bahkan, pagi2 sekali saat saya keluar kamar, ada peserta dari jepang sedang jogging, menikmati alam di kaki gunung wilis ini.

Hari ke dua fieldtrip, kami ke lapindo. Perjalanan 4 jam. Tetapi rasa lelah di dalam bis terobati, saat kami bisa masuk ke lokasi mud volcano itu, sampai jauh ke tengah, dengan bis ini. Kebetulan, kantor kami sering ikut terlibat menangani masalah lapindo ini , jadi ada beberap yang kenal dengan pejabat yang mengurusi lapindo. Selain itu mungkin karena mereka juga butuh saran dari para ahli yang ikut fieldtrip ini.

Fieldtrip berakhir di rumah Makan Tempo Doeloe, tidak jauh dari bandara Juanda. Kami berpisah di bandara Juanda. Sebagian terbang ke Jakarta dan pulang ke negara masing2.saya dan beberapa kawan terbang ke Bandung.

Setelah symposium berakhir, baru terasa capek. Karena itu, saya mengambil cuti tahunan di akhir tahun ini. Meski cuti, saya tetap bawa laptop karena masih ada kerjaan yang harus selesai awal tahun depan.

Tahun 2008 berlalu tanpa terasa.
Yoi toshi o mukae kudasai
Selamat tahun baru 2009

Monday, March 17, 2008

To The North #4: Farewell

Setelah selama sekitar 25 hari kami berkumpul dan bekerja bareng, tiba saatnya untuk berpisah. Ada rasa gembira karena selama 3 minggu lebih, kami bisa bekerja sama dengan baik. Tim USGS sangat puas dengan hasil kerja tim instalasi. Dan tim2 yang lain juga senang bisa punya kesempatan bekerja bareng. Saya sendiri senang bisa bekerja sama dengan mereka. Dengan team leader-nya, JP, saya dapat knowledge tentang proses terjadinya kaldera Tondano. Pak John (begitu kami biasa memanggilnya) adalah sebuah pribadi yang rendah hati. Pengen belajar gimana ya bisa jadi orang yang rendah hati :)

Dari Jeff dan Andy saya dibantu koreksi bahasa inggris untuk paper yang sedang saya tulis, plus beberapa masukan juga. Dengan Marvin, orang yang paling tua dalam tim, sering bercanda. Kalau di lapangan, sambil bekerja atau ditengah jeda, dia suka mencari2 obyek untuk di foto dengan kamera dia yang bikin iri :P. Beberapa kali saya minta difotoin obyek2 yang menarik, yang kamera pocket saya tidak mampu melakukannya. Tamar dan Cindy dari tim gas, juga pribadi yang menarik. Meskipun saya jarang kontak secara intens, karena jarang bareng.

Selain mereka, tim dari kantor saya juga tim yang solid. Dengan mereka segalanya jadi menyenangkan. Bayangkan saja, kami 10 orang, semua tinggal di pos pengamatan ditambah 4 orang petugas pos pengamatan g. Lokon yang memang tinggal disekitar pos. Suasana hangat dan penuh tawa.

Pagi tadi, tim USGS ber-sayonara. Glad to know you all.

Besok pagi kami semua akan meninggalkan Tomohon, setelah 25 hari menjadi home base kami. Semua terbang ke Jakarta, kecuali saya yang membelokkan diri ke Jogjakarta, dan terus ke kampung halaman.

Lumayan ada long wiken ;)

To The North #3 Cruising North (2)

Tinggal 3 hari dua malam di P. Tagulandang. Penginapan kami dekat pelabuhan, jadi tengah malampun kadang2 masih terdengar mondar-mandir orang atau kendaraan motor. Jumlah penduduk disini tidak banyak, hanya terdiri dari 3 kecamatan, dan merupakan bagian dari Kabupaten Sitaro. Tempat yang enak buat beristirahat, anak2 bebas bermain badminton atau apa saja di tengah jalan. Bahkan kata pemilik penginapan tidak ada kejahatan, karena orang saling mengenal. Lagipula kan gerbang keluar masuk pulau ini hanya pelabuhan saja, jadi pasti sulit buat melarikan diri. Kapal juga sehari paling 1 kali atau 2 kali yang singgah.

Pulau kecil dikelilingi laut membuat cuaca gampang sekali berubah. Dari cerah dan panas, tiba2 hujan lebat. Seperti saat kami meninggalkan P. Tagulandang untuk melanjutkan perjalanan ke P. Siau menyusul kawan2 lain yang sudah berada disana, saat keluar dari penginapan udara masih panas, tetapi begitu sampai pelabuhan, hujan lebat.

Perjalanan dari P. Tagulandang ke P. Siau sekitar 1 jam, dengan kapal cepat yang sama (ternyata cuma satu2nya). Kapal ini sehari berlayar ke arah utara, dan besoknya kembali lagi ke selatan (Manado). Makanya kapal ini hanya dua hari sekali melayani rute yang sama. Ternyata beli karcis VIP jauh lebih enak daripada kursi executive :D.

Sekitar jam 14.30 WITA kami berlabuh di P. Siau. Udara jauh lebih sejuk, mungkin karena baru diguyur hujan. Setelah menaruh barang di penginapan, kami bergerak ke pos pengamatan G. Karangetang yang terletak di sebuah bukit di kaki gunungapi. Lumayan juga berjalan kaki ke pos.

Disana saya melihat catatan seismic, diskusi dengan Andy dan Jeff, dan mengamati tim gas sedang mengukur kandungan gas SO2 yang keluar dari kawah gunungapi. Hari sudah gelap ketika kami semua turun ke kota dengan membawa barang2 milik tim gas dan beberapa milik tim instalasi, dalam kegelapan karena belum ada listrik di sepanjang jalan. Lagi pula letak pos ini sangat terpencil. Salut sama para petugas pos yang berdedikasi dalam kerjanya. Ada sekitar 1 km, baru kami sampai di tempat angkot sewaan menunggu.

Kami semua, 14 orang menginap di satu penginapan kecil. Yang mungkin isinya hanya kami :D. Esok hari, pagi hari tim gas masih ada diskusi kecil. Sedangkan kami menyewa angkot mengelilingi P. Siau. Target utama sih ingin melihat G. Karangetang dengan lebih jelas dari berbagai sisi, sayang kabut menutupi puncaknya. Air laut yang biru berkilau mengundang untuk diceburin :D.

Jam 12 siang, kami semua turun ke pelabuhan untuk kembali ke Manado dan kembali ke home base kami di Tomohon, yang sejuk.
(bersambung)